JURNAL PERCOBAAN VI (SKRINNING FITOKIMIA SENYAWA BAHAN ALAM)
JURNAL PRATIKUM
KIMIA ORGANIK II
DISUSUN OLEH :
NUR KHALISHAH (A1C118052)
DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs.SYAMSURIZAL.,M.Si
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN METEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
I. Judul : Skrinning Fitokimia Senyawa Bahan Alam
II. Hari/ Tanggal :
III. Tujuan :
Adapun tujuan dari praktikum kali ini sebagai berikut:
1. Dapat mengenal dan memahami teknik-teknik skrinning fitokimia bahan alam
2. Dapat mengetahui jenis-jenis pereaksi yang digunakan dalam skrinning fitokimia bahan alam
3. Dapat melakukan skrinning fitokimia bahan alam dari suatu simplisia tumbuhan
1. Dapat mengenal dan memahami teknik-teknik skrinning fitokimia bahan alam
2. Dapat mengetahui jenis-jenis pereaksi yang digunakan dalam skrinning fitokimia bahan alam
3. Dapat melakukan skrinning fitokimia bahan alam dari suatu simplisia tumbuhan
IV. Landasan Teori
Pada makhluk hidup terdapat kandungan kimia yang Berdasarkan cara
terbentuknya serta fungsinya yang dapat dikelompokkan menjadi dua
kelompok besar yaitu:
1.) Metabolit primer, yang merupakan senyawa organik yang mana terlibat
dalam proses metabolisme dalam makhluk hidup seperti karbohidrat lipid
protein dan asam amino.
2.) Metabolit sekunder, merupakan hasil samping dari proses metabolisme
seperti alkaloida, steroida atau yerpenoida, flavinoida, fenolik ,
kumarin, kuinon, saponin, tannin, lignin, dan glikosida yang dikenal
sebagau kimia bahan alam. Menurut farnsworth(1996) yang dimaksud dengan
skrining fitokimia yaitu pemeriksaan kimia secara kualitatif terhadap
senyawa senyawa aktif biologis yang terdapat dalam simplisia tumbuhan
atau makhluk hidup lainnya. Maka karena pada umumnya senyawa aktif
tersebut adalah senyawa organik maka pemeriksaan skrining fitokimia
ditujukan terhadap golongan senyawa senyawa organik (Tim Kimia
Organik,2019).
Obat tradisional atau herbal telah banyak dikenal luas di Indonesia
tanaman kawista Ini mengandung senyawa-senyawa yang memiliki khasiat
dalam pengobatan yang dikenal sebagai senyawa fitokimia berdasarkan
penelitian sebelumnya disebutkan bahwa buah kawista mengandung senyawa
alkaloid, saponin, fenol dan flavonoid. Analisis fitokimia dilakukan
secara kualitatif untuk mengetahui kandungan aktif yang terkandung dalam
ekstrak buah kawista. Pada penelitian ini ekstraksi daging buah kawista
muda dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%.
Pemilihan etanol karena pelarut etanol dapat melarutkan seluruh Bahan
aktif yang bersifat polar, semi polar maupun non polar. Selain itu
etanol juga dapat untuk menembus membran sel agar terjadinya ekstraksi
bahan intraseluler dari bahan tanaman. Berdasarkan hasil uji fitokimia
ekstrak etanol buah kawista pada penelitian ini menunjukkan adanya
kandungan senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, tanin, saponin,
polifenol dan trivepenoid (Audia,2017).
Untuk mengidentifikasi bioaktif yang belum terlihat dengan suatu
pemeriksaan yang bisa dengan cepat memisahkan antara bahan alam yang
memiliki kandungan fitokimia dikenal dengan skrining fitokimia. Tahap
awal pada skrining fitokimia dalam penelitian bertujuan agar memberikan
gambaran terhadap golongan senyawa yang berada atau terkandung dalam
tanaman yang diteliti. Maka metode skrining fitokimia dilakukan dengan
melihat reaksi penguji warna dengan menggunakan suatu pereaksi warna hal
yang terpenting dalam skrining fitokimia adalah pemilihan pelarut dan
metode ekstraksi (Kristanti,2008).
Menurut Harbone (1987), ada beberapa metode yang di gunakan untuk
mengidentifikasi metabolit sekunder yang terkandung pada suatu ekstrak,
yaitu sebagai berikut:
a. Identifikasi senyawa golongan alkaloid
Alkaloid merupakan senyawa nitrogen yang sering di jumpai di dalam
tumbuhan, untuk mengetahui atau mengidentifikasi adanya alkaloid yaitu
dapat manggunkan pereaksi Dragendroff dan pereaksi Meyer.
b. Identifikasi senyawa antrakuinon
Antrakuinon yaitu suatu glikosida yang didalam tumbuhan terdapat sebagai
turunan antrakuinon terhidrolisis temitilasi, atau terkarboksilasi,
dimana antrakuinon berikatan dengan gula sebagai o-glikosida atau
c-glikosida. Turunan antrakuinon dapat beraksi dengan basa yang
memberikan warna ungu dan hijau.
c. Identifikasi senyawa golongan flavonoid
Flavonoid adalah senyawa yang pada umumnya terdapat pada tumbuhan
berpembuluh, terikat pada glukosa dan aglikon flavonoid. Untuk
menganalisis flavonoid yang diperiksa adalah aglikon dalam ekstrak
tumbuhan yang sudah dihidrolisis. Dimana proses ekstraksi senyawa ini
dilakukan dengan etanol mendidih untuk menghindari oksidasi enzim.
Pada penelitian ini skrining fitokimia dilakukan secara kualitatif
berdasarkan sifat kelarutan senyawa. Hasil analisis senyawa fitokimia
diperoleh senyawa yang terkandung pada ekstrak mikroalga Tetraselmis
chuir yaitu senyawa golongan alkaloid, flavonoid, dan glikosida
flavonoid. Pada pengujian senyawa golongan alkaloid plat silika gel
hasil uji klt disemprotkan dengan pereaksi dragendorff, uji positif
dilakukan apabila menghasilkan noda berwarna coklat atau Jingga. Pada
pengujian flavonoid plat silika gel klt disemprotkan dengan amonia
timbul noda berwarna kuning yang menandakan ekstrak mengandung flavonoid
bebas (Roby,2014).
V. Alat dan Bahan
5.1 Alat
a) Tabung reaksi 20 buah
b) Erlenmeyer 250ml
c) Plat tetes
d) Gelas kimia 200ml
e) Pipet tetes
f) Lumpang
g) Corong gelas
h) Gelas ukur
5.2 Bahan
a) Pereaksi Dragendorf
b) Pereaksi Mayer
c) Pereaksi Wagner
d) Kloroform
e) NaOH padatan
f) Etanol
g) Iodine
h) Metanol
i) Brusin
j) KI
k) Heksan
l) Shinoda
VI. Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja pada percobaan ini adalah sebagai berikut :
a) Pemeriksaan Alkaloida
1. Dihaluskan simplisia tumbuhan sebanyak 2-4 gr pada lumpang dengan menambahkan sedikit kloroform dan pasir bersih (silica).
2. Bahan tumbuhan yang sudah halus dibasahi dengan 10ml kloroform, lalu
gerus lagi dan ditambahkan 10 ml kloroform amoniak 1/20 N dan gerus
lagi.
3. Saring bahan yang telah digerus tadi kedalam tabung reaksi, tambahkan 10 tetes larutan asam sulfat 2N, lalu dikocok.
4. Dipisahkan dan didekantasikan lapisan asam kedalam tiga tabung reaksi
kecil dan masing-masing tabung ditambahkan dengan satu tetes pereaksi
Meyer, Wagner, dan Dragendorf.
b) Pemeriksaan Steroid dan Terpenoid
1. Dimasukkan simplisia tumbuhan 5 gr kering yang telah dirajang halus
kedalam erlenmeyer 250 ml. Lalu tambahkan dengan 25 ml etanol dan
diaduk-aduk.
2. Panaskan diatas penangas air selama 10 menit (jangan menggunakan api langsung), dan saring dalam keadaan panas.
3. Diuapkan filtrat pelarutnya dengan rotary evaporator atau dengan
menggunakan penangas air sehingga diperoleh ekstrak pekat etanol.
4. Dititrasi ekstrak pekat etanol dengan sedikit eter dan beberapa tetes
larutan eter ditempatkan dalam 2 lobang plat tetes dan biarkan kering.
5. Ditambahkan 2-3 tetes anhidrida asam asetat, diaduk dengan hati-hati.
6. Ditambahkan 1 tetes asam sulfat pekat dan amati perubahan warna yang terbentuk.
7. Periksalah reaksi dengan menambahkan asam sulfat pekat pada lobang
plat tetes yang satu lagi, amati warna yang terjadi. Kalau terbentuk
warna yang sama sangat boleh jadi contoh tumbuhan yang diperiksa tidak
mengandung terpenoida tapi senyawa lain yang bereaksi dengan asam sulfat
pekat.
c) Pemeriksaan Flavonoida
1. Diekstrasksi 0,5 gr simplisia tumbuhan yang telah dihaluskan dengan 10 ml etanol panas selama 5 menit dalam tabung reaksi.
2. Disaring hasil ekstrak dan filtratnya ditambahkan beberapa tetes HCl
pekat, lalu ditambahkan lebih kurang 0,2 gr bubuk magnesium. Bila timbul
warna merah tua, menandakan contoh mengandung flavonoid. Cara uji
teknik shinoda (Mg+HCl).
3. Cara lain pengujian flavonoid, dengan menambahkan ekstrak etanol
diatas dengan 2 tetes NaOH 10% . adanya flavonoid ditandai dengan
perubahan warna kuning-orange merah.
d) Pemeriksaan Saponin
1. Dimasukkan lebih kurang 0,5 gr bahan tumbuhan kedalam tabung reaksi,
lalu tambahkan 10 ml air panas dan biarkan menjadi dingin kemudian
dikocok selama 10 detik.
2. Bila terbentuk busa yang stabil setinggi 1-10cm selama 10 menit
tidak hilang saat penambahan 1 tetes asam klorida 2N pada perlakuan ini,
berarti tes saponin adalah positif.
e) Pemeriksaan Kuinon
Dipotong-potong halus simplisia tumbuhan, kemudian diekstraksi dengan
eter. Jika warna contoh yang diuji masuk kedalam pelarut eter boleh jadi
zat warna yang ada adalah kuinon.
f) Pemeriksaan Kumarin
Ekstrak metanol atau ekstrak dari simplisia tumbuhan dapat dideteksi
keberadaan kumarinnya dengan cara ekstrak etanol atau metanol dari
contoh kromatografi lapis tipis, dengan menggunakan eluen etil asetat
atau etil asetat : metanol (9:1) atau (8:2). Dibawah sinar ultraviolet
gelombang panjang 360 nm kumarin biasanya akan berfloresensi biru dan
kalau noda ini diberi uap ammonium akan terlihat noda yang berwarna
kuning.
Permasalahan :
1.Mengapa di tetesi HCl pekat saat pemeriksaan flavonoid ?
2.Mengapa terjadi proses dekantasi saat dilakukannya pemeriksaan alkoloida ?
3.Untuk menguji dan mengamati perubahan pada saat pemeriksaan steroid dan terpenoid mengapa digunakan asam sulfat pekat ?
2.Mengapa terjadi proses dekantasi saat dilakukannya pemeriksaan alkoloida ?
3.Untuk menguji dan mengamati perubahan pada saat pemeriksaan steroid dan terpenoid mengapa digunakan asam sulfat pekat ?

Baiklah saya Kelantan (023) akan menjawab permasalahan no.1
BalasHapusPenambahan HCl pekat dalam uji flavonoid digunakan untuk menghidrolisis flavonoid menjadi aglikonnya atau untuk membentuk garam Flavilium yang berwarna merah-jingga.
Baiklah saya Nurhalimah (024) akan menjawab Permaslhan dari saudari Lisa yaitu Untuk menguji dan mengamati perubahan pada saat pemeriksaan steroid dan terpenoid mengapa digunakan asam sulfat pekat ? Baiklah menurut saya mengapa Digunakan asam sulfat pekat itu dikarenakan asam sulfat disini untuk pengenceran terima Kasih.
BalasHapusSaya Zulia Nur Rahma (048) akan menjawab permasalahan no 2.
BalasHapusMenurut saya hal ini dikarenakan dekantasi di percobaan ini adalah suatu proses yang dilakukan untuk memisahkan campuran larutan dengan menuangkan cairan secara perlahan sehingga endapan tertinggal di bagian dasar gelas kimia. Oleh sebab itu diperlukan proses dekantasi pada pemeriksaan alkoloida ini.