JURNAL PRATIKUM KIMIA ORGANIK II (PEMBUATAN SENYAWA ORGANIK ASAM BENZOAT DAN BENZIL ALKOHOL (PERCOBAAN V))
JURNAL PRATIKUM
KIMIA ORGANIK II
DISUSUN OLEH :
NUR KHALISHAH (A1C118052)
DOSEN PENGAMPU :
Dr.Drs.SYAMSURIZAL.,M.Si
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN METEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
I. Judul : Pembuatan Senyawa Organik Asam Benzoat dan Benzil Alkohol
II. Hari/Tanggal :
III. Tujuan :
Adapun tujuan dari dilakukannya praktikum ini sebagai berikut :
1. Dapat memahami reaksi oksidasi dan reduksi aldehid yang tidak memiliki H alfa.
2. Dapat memahami reaksi yang terjadi pada senyawa aldehid akibat penambahan basa kuat.
3. Dapat mempelajari cara pembuatan asam benzoat dan benzil alkohol
IV. Landasan Teori
Asam menjawab adalah senyawa organik yang memiliki wujud padat, berwarna
putih serta berbau menyengat dengan titik leleh 122-123 ⁰C dan
kristalnya berbentuk monoklin. Asam benzoat pada kehidupan sehari-hari
banyak digunakan sebagai bahan pengawet makanan dan bahan obat-obatan.
Benzil alkohol pada suhu kamar akan berwujud cair dan tidak berbau.
Kedua senyawa tersebut dapat dibuat dari bahan benzaldehid yang
ditambahkan dengan basa kuat kemudian dipanaskan. Benzaldehid itu
merupakan suatu senyawa aldehid yang memiliki gugus fungsi karbonil dan
dapat mengalami reaksi adisi nukleofilik dan nukleofil seperti OH, CN,
NH3, ion C- (karban) dan sebagainya.
Ion karban ini dihasilkan melalui reaksi senyawa aldehid yang memiliki H
Alfa dengan suatu basa kuat. Senyawa aldehid yang tidak memiliki
hidrogen alfa tak mengalami reaksi tersebut. Pada penambah basa kuat
terhadap senyawa ini akan terjadi reaksi reduksi yang menghasilkan
senyawa alkohol dan garam karboksilat. Jika reaksi ini disertai dengan
pemanasan maka reaksi akan disproporsional dimana sebagian aldehid akan
teroksidasi dan sebagai lagi tereduksi. Reaksi ini yang dikenal sebagai
reaksi cannizarro. Benzil alkohol dalam percobaan ini dibuat dengan cara
mereaksikan suatu aldehid aromatis dengan suatu basa kuat (Tim Kimia
Organik II,2019).
Asam benzoat dan benzil alkohol yang dibuat dari benzaldehid yang
Kemudian ditambahkan dengan basa kuat dan dipanaskan. Benzaldehid
memiliki gugus fungsi karbonil dan dapat mengalami reaksi adisi
nukleofilik dan nukleofil seperti OH, CN, NH3, ion C- (karban) dan
sebagainya sama seperti Nitril ataupun amida lainnya, benzonitril dan
benzamida dapat dihidrolisis menjadi asam benzoat ataupun basa konjugasi
dalam keadaan asam ataupun basa. Disproporsionasi benzaldehid yang
diinduksi oleh basa dalam reaksi cannizzaro akan menghasilkan sejumlah
asam benzoat dan benzil alkohol dengan jumlah yang sama banyak. Benzil
alkohol kemudian dapat dipisahkan dari asam benzoat menggunakan metode
pemisahan destilasi. Bromo benzena juga dapat diubah menjadi asam
benzoat dengan karbonasi zat antara fenil magnesium bromida, benzil
alkohol dapat direfluks dengan penambahan kalium permanganat ataupun
oksidator lainnya dalam air yang kemudian campuran ini disaring untuk
memisahkan mangan oksida dari campuran dan kemudian didinginkan pada
suhu ruangan untuk mendapatkan asam benzoat (Hart,2014) .
Suatu molekul aldehida teroksidasi menjadi asam dan yang lainnya
tereduksi menjadi alcohol primer, maka reaksi ini bisa dikenal dengan
reaksi Canizzaro, dimana reaksi ini adalah reaksi yang melibatkan
peralihan hidrida dari molekul aldehida yang tidak memiliki hydrogen
alfa, contohnya HCHO, R3CCHO, ArCHO ke molekul kedua, yaitu baik
aldehida yang sama atau disporsionasi maupun terkadang kemolekul
aldehida lainnya. Hidrida dapat berasal dari senyawa 1 atau 2, dimana
reaksi yang berada di hidrida dari senyawa 1 akan diikuti dengan
peralihan hidrida secara lambat ke atom karbonil molekul aldehid kedua
sehingga membentuk senyawa 3 dan 4 (Sudjaji,2015).
Reaksi Cannizzaro, dinamakan dari penemunya Stanislao Cannizzaro, adalah
sebuah reaksi kimia yang melibatkan disproporsionasi aldehida tanpa
hidrogen pada posisi alfa yang diinduksi oleh basa. Cannizzaro pertama
kali menyelesaikan transformasi ini pada tahun 1853, ketika dia
mendapatkan benzil alkohol dan asam benzoat dari reaksi antara
benzaldehida dengan kalium karbonat. Suatu Aldehida (rumus CnH2nO)
merupakan isomer gusus fungsi dari keton. Aldehida dan keton keduanya
sama-sama memiliki ikatan karbonil (-C=O) tanpa hidrogen alfa (α),
Hidrogen alfa adalah hidrogen yang terikat pada atom C tepat disebelah
atom karbonil, suatu aldehida tidak dapat menjalani adisi diri untuk
menghasilkan suatu produk aldol. Umumnya aldehida memiliki hidrogen alfa
yang dapat menjalani reaksi adisi dan menghasilkan produk aldol. Kata
aldol disini berasal dari aldehida dan alkohol yang merupakan produk
yang terbentuk dari reaksi tersebut, untuk reaksi kondensasi ialah
reaksi dimana dua molekul atau lebih bergabung menjadi satu molekul yang
lebih besar,dengan atau tanpa hilangnya suatu molekul kecil (suatu
air). Kondensasi aldol merupakansuatu reaksi adisi dimana tidak
dilepaskan suatu molekul kecil(Brady, 1999).
Analisis keberadaan senyawa asam benzoat dan asam salisilat dalam
sediaan farmasi Yang Telah dilaporkan diantaranya adalah dengan metode
Solid phase Extraction (SPE) dan high performance liquid
chromatoghraphy (HPLC), first demate spectrophotometry, Gas
Chromatography (GC), dan micellar electraacinetic chromatoghraphy.
Metode spektrometri dapat digunakan untuk menganalisis asam benzoat dan
asam salisilat dalam sediaan farmasi karena senyawa ini memiliki gugus
kromofor Namun kedua senyawa tersebut memiliki pola Spektra UV yang
saling tumpang tindih sehingga campuran kedua senyawa ini tidak dapat
diukur secara simultan menggunakan spektrofotometri konvensional atau
Zero order. Pengukuran suatu campuran yang memiliki spektrum serapan
tumpang tindih akan mengakibatkan hasil pengukuran akurat. Pendekatan
lainnya yang dapat digunakan dalam analisis kedua senyawa ini adalah
dengan teknik kemometrika atau metode kalibrasi multivariat yang telah
banyak dikembangkan untuk menganalisis dua atau lebih senyawa secara
simultan dengan profil Spectra yang saling tumpang tindih.
Spektrofotometri dengan pendekatan kemometrika Principal komponen
regression (PCR) dan partical least square-I (PLS-1) merupakan contoh
metode kalibrasi multivariat dan sering digunakan dalam analisis senyawa
campuran secara simultan penggunaan metode spekrtrofotometri dengan
pendekatan kemometrika pada penetapan kadar senyawa obat antifungi asam
benzoat dan asam salisilat secara simultan dalam bentuk sediaan larutan
belum pernah dilaporkan (Curie,2017).
V. Alat dan Bahan
Alat :
1. Erlenmeyer 250 ml
2. Labu dasar datar 300 ml
3. Labu destilasi
4. Corong pisah
5. Termometer
6. Pendingin air (kondensor)
Bahan :
1. KOH padat 27 gr
2. Larutan Natrium bisulfit 20 ml
3. MgSO4 5 gr
4. Benzaldehide 29 ml
5. Larutan natrium karbonat 10 ml
6. Asam klorida pekat 75 ml
7. Eter 120 ml
VI. Prosedur Kerja
1. Dilarutkan 27 gr kalium hidroksida padat dalam 25 ml air dalam sebuah Erlenmeyer.
2. Dituangkan larutan kalian ini ke dalam sebuah Labu dasar datar yang
berisi 29 ml benzaldehide yang baru didestilasi, lalu dikocok sampai
terjadi emulsi, dan didiamkan selam 10 jam dalam sebuah tempat yang
tertutup rapat.
3. Ditambahkan air kira-kira 110 ml untuk melarutkan endapan kalium benzoat yang terjadi.
4. Dipindahkan larutan tadi ke dalam corong pisah, kemudian ekstraksi 3 kali, masing-masing dengan 30 ml eter.
5. Dikocok kuat-kuat, diamkan sebentar sehingga terjadi dua lapisan
cairan, yaitu lapisan larutan dalam eter dan lapisan larutan dalam air.
6. Dipisahkan kedua lapisan tadi, kemudian dikerjakan tiap-tiap lapisan tadi melalui proses tertentu.
7. Di ekstraksi larutan dalam eter (lapisan atas) dimasukkan ke dalam
labu destilasi untuk memisahkan eter-nya dengan jalan destilasi, sampai
volumenya tinggal 300 ml.
8. Didinginkan sisa destilasi ini dan kocok beberapa kali masing-masing
dengan menambahkan 5 ml larutan jenuh natrium bisulfit, untuk mengusir
sisa benzaldehide yang masih ada.
9. Dicuci dengan 10 ml larutan natrium karbonat (10%), kemudian dikeringkan dengan menambahkan 5 gr anhidrida magnesium sulfat.
10. Disaring dan destilatnya langsung ditampung dalam labu destilasi.
11. Di destilasi untuk memisahkan eter yang masih ada, dengan
memanaskannya diatas penangas air, teruskan destilasi tersebut untuk
mendapatkan destilat benzaldehide pada temperatur 200-206°C Pada wajah
yang basah dan kering.
12. Bila benzaldehide yang ditampung itu tidak pada temperatur 200°C,
berarti belum murni perlu dimurnikan kembali dengan mendestilasi lagi
destilat tersebut.
13. Bila destilat ditampung pada temperatur mendekati titik didih
benzaldehide, periksa kemurnian dengan melihat indeks biasanya.
14. Larutan dalam air yang disimpan (lapisan bawah) yaitu kalium benzoat
ke dalam satu campuran 75 ml asam klorida pekat dalam 75 ml air sambil
diaduk dan ditambah 100 gr es.
15. Terdapat endapan asam benzoat, disaring, cucu dengan air kemudian
uapkan untuk mendapatkan Kristal asam benzoat. Periksa titik lelehnya.
Permasalahannya sebagai berikut :
1. Pada pembuatan asam benzoat dari toluena kita menggunakan pengoksidasi berupa KMNO4 di dalam video, Bisakah kita mengganti kmno4 dengan pengoksidasi lain Tolong jelaskan?
2. Mengapa ditambahkannya larutan jenuh berupa natrium bisulfit pada proses pembuatan asam benzoat?
3. Mengapa pada proses pencampuran sodium benzoat dengan HCL akan membentuk gumpalan?

Assalamu'alaikum. Saya Wafiqah Alvia (A1C118047) akan menjawab permasalahan no. 2 ditambahkannya larutan jenuh berupa natrium bisulfit pada proses pembuatan asam benzoat karena penambahan larutan natrium bisulfit ini bertujuan untuk menghilangkan sisa benzaldehide yang masih ada. Terimakasih
BalasHapusBaiklah disini saya ingin mencoba menjawa permasalahan nomor 3.menurut saya terjadinya gumplan itu merupakan reaksi awal dari tahap pencampuran tersebut. Dimana pada proses dimasukan nya HCL ke sodium benzoat terjadi gumpalan tanpa diaduk. Terimakasih
BalasHapusBaiklah saya Nurhalimah (024) akan mencoba menjawab permasalahan no 1yaitu Pada pembuatan asam benzoat dari toluena kita menggunakan pengoksidasi berupa KMNO4 di dalam video, Bisakah kita mengganti kmno4 dengan pengoksidasi lain Tolong jelaskan? Ya bisa kita bisa menggunakan pengoksidasi Kuat yg lain selain KMnO4 dengan cara mencari pengoksidasi yg sifatnya hampir mirip dengan KMnO4 dan mengapa dalam video itu KMnO4 yang sering digunakan itu karena KMnO4 adalah agen pengoksidasi yg umumnya digunakan. Terima kasih
BalasHapus