Jurnal Percobaan XI : Uji Karbohidrat

DOSEN PENGAMPU :
Dr. Drs. Syamsurizal., M.Si
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
Karbohidrat didefinisikan secara umum sebagai senyawa dengan rumius molekul Cn(H2O)n. Karbohidrat adalah tunınan aldchid atau keton dari alkohol polihidroksi atau senyawa tunınan sebagai hasil hidrolisis senyawa kompleks . Karbohidrat yang dihasilkan olech tumbuhan merupakan cadangan makanan yang disimpan dalam akar, batang, dan biji sebagai pati (amilum). Karbohidrat dalam tubuh manusia dan hewan dibentuk dari beberapa asam amino, gliserol lemak, dan sebagian besar diperoleh dari makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. (Tim Kimia Organik II, 2020).
Karbohidrat terdiri dari unsur C, H, dan O. Jumlah atom hydrogen dan oksigen merupakan perbandingan 2:1. Karbohidrat dapat dibedakan menjadi: monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida. Monosakarida ialah karbohidrat yang paling sederhana yang tidak dapat dihidrolisis menjadi karbohidrat lain. Sebagian besar monosakarida dikenal sebagai heksosa, karena terdiri atas 6-rantai atau cincin karbon. Menurut Sunita Almatsier, ada tiga jenis heksosa yang penting dalam ilmu gizi, yaitu glukosa, fruktosa, dan galaktosa. Ketiga macam monosakarida ini mengandung jenis dan jumlah atom yang sama, yaitu 6 atom karbon, 12 atom hidrogen, dan 6 atom oksigen. Perbedaannya hanya terletak pada cara penyusunan atom-atom hydrogen dan oksigen di sekitar atom-atom karbon (Sunita , 2009).
Karbohidrat memegang peranan penting dalam alam karena merupakan sumber energi utama bagi umat manusia dan hewan yang harganya relatif murah. Karbohidrat yang dihasilkan adalah karbohidrat sederhana glukosa. Di samping itu dihasilkan oksigen (O2) yang lepas di udara (Almatsier, 2010).
Menurut Rahman (2007), Adanya karbohidrat dalam makanan dapat diidentifikasi secara kualitatif maupun kuantitatif. Uji kualitatif karbohidrat yang mendasarkan pada pembentukan warna dapat dilakukan dengan cara:
a. Uji molish
Uji ini berlaku umum, baik untuk aldosa maupun ketosa. Caranya, karbohidrat ditambah H2SO4melaluidinding-dinding tabung. Asam sulfat akan menyerap air dan membentuk furfural yang selanjutnya dikopling dengan α-naphtol membentuk senyawa gabungan berwarna ungu. Jika yang dideteksi pentose akan terbentuk furfural, sementara itu jika aldosa yang dideteksi akanterbentuk hidroksimetilfurfural.
b. Uji selliwanof
Uji ini positif terhadap ketosa, misal fruktosa. Akan tetapi negative terhadap aldosa. Pereaksi dibuat dengan mencampurkan resorsinol dengan HCl pekat kemudian diencerkan dengan akuades. Uji dilakukan dengan menambahkan larutan sampel ke dalam pereaksi lalu dipanaskan dalam air mendidih. Adanya warna merah menunjukkanadanya ketosa.
c. Uji benedict
Uji ini positif untuk gula pereduksi/ gula inversi seperti glukosa dan fruktosa. Caranya gula reduksi ditambahkandengan campuran CuSO4(tembaga sulfat), natrium sitrat (NaSO3) dan natrium karbonat (NaCO3) lalu dipanaskan maka akan terbentuk endapan kupro oksida (Cu2O) yang berwarna merah coklat.
Uji ini terjadi dalam suasana basa/alkalis karena gula akan mereduksi dalam suasana basa. Natrium sitrat berfungsi sebagai pengkelat Cu dengan membentuk kompleks Cu-sitrat. Natrium karbonat berfungsi untuk menciptakan suasana basa.
d. Uji fehling
Uji ini hampir sama dengan uji benedict yang bertumpu pada adanya gula pereduksi pada karbohidrat. Cara ujinya: gula reduksi ditambah campuran larutan CuSO4dalam suasana alkalis (dengan ditambah NaOH) dan ditambah dengan Chelating agent, lalu dipanaskan maka akan terbentuk endapan kupro oksida.
e.Uji iodium
Polisakarida dengan penambahan iodium akan membentuk kompleks adsorpsi berwarna yang spesifik. Amilum atau pati yang dengan iodium menghasilkan warna biru, dekstrin menghasilkan warna merah anggur, sedangkan glikogen dan sebagian pati yang terhidrolisis akan membentuk warna merah.
Sedangkan uji kuantitatif dapat dilakukan dengan beberapa metode diantaranya:
a.Metode luff school
Metode ini dapat digunakan untuk menentukan kandungan glukosa dalam bahan yang akan diuji (contohnya buah) berdasarkan pada reaksi titrasi iodometri dari kelebihan Cu.
b.Metode dinitrosalisilat (DNS)Metode ini dapat digunakan untuk mengukur gula pereduksi dengan teknik kolorimetri. Teknik ini hanya bisa mendeteksi satu gula pereduksi, misalnya glukosa. Gugus aldehida yang dimiliki oleh glukosa akan dioksidasi oleh asam 3,5 dinitrosalisilat menjadi gugus karboksil.
c.Metode asam fenol sulfatMetode ini disebut juga dengan metode TS (total sugar) yang digunakan untuk mengukur total gula. Metode ini dapat mengukur dua molekul gula pereduksi.
- Tabung reaksi
- Pipet tetes
- Pipet volume
- Bulb (filter)
- Kompor listrik
- Lampu alkohol atau spiritus
- Pengaduk kaca
- Martar atau lumpang
- Stopwatch
- Gelas kimia 100 dan 200 ml
- Gelas dan termometer
- Glukosa
- Sukrosa
- Selulosa atau Pati
- Asam sulfat pekat
- Asam klorida
- Natrium hidroksida (NaOH)
- Pereaksi molisch
- Pereaksi Benedict
- Larutan iod
- Pereaksi tollens
- Pereaksi fehling
- Pereaksi basa kuat
- Pereaksi iod dan aquades
- Diisi masing-masing tabung reaksi dengan 5 ml larutan gula (glukosa, sukrosa, zat Pati/selulosa dalam air)
- Ditambahkan 1 tetes pereaksi molisch dan dikocok perlahan
- Dimiringkan tabung lalu ditambahkan ke dalam 5 mili asam sulfat pekat dengan hati-hati melalui dinding tabung
- Diperhatikan warna lingkaran yang terbentuk pada batas pertemuan dari dua lapisan cairan dalam tabung
- Dikocok dan diencerkan dengan 5 ml air akan terbentuk warna ungu tua
- Dimasukkan 2 ml larutan fehling a dan 2 ml larutan fehling B di dalam tabung reaksi
- Ditambahkan beberapa tetes larutan glukosa lalu dikocok perlahan lahan
- dimasukkan tabung tersebut ke dalam penangas air lalu diamati dan dicatat perubahan yang terjadi dan ditulis reaksinya
- Dimasukkan 2 mili pereaksi Benedict ke dalam tabung reaksi
- Ditambahkan beberapa tetes glukosa dan diaduk perlahan
- Dimasukkan tabung ke dalam penangas air lalu diamati dicatat perubahan yang terjadi dan ditulis reaksinya
- Masukan 2 mili pereaksi tollens dan beberapa tetes larutan glukosa ke dalam tabung reaksi
- Dikocok perlahan dan dipanaskan lalu ditulis reaksinya
- Dimasukkan masing-masing sampai glukosa, sukrosa, selulosa sebanyak 5 ml
- Ditambahkan larutan iod sebanyak 5 tetes dan diamati perubahan warna pada larutan
- Dimasukkan 2 ml larutan glukosa 10% dan 0,5 ml NaOH 25% diaduk perlahan
- Dipanaskan dalam air mendidih selama 5 menit dan diperhatikan rupa dan bahu dari zat yang terbentuk dan ditulis reaksinya
- Dilarutkan 1,5 gram sukrosa dalam 200 ml air ke dalam tabung reaksi
- dilakukan seperti percobaan B nomor 1 2 3 dan 4 dengan menggunakan sukrosa sebagai pengganti glukosa
- Dilarutkan 1,5 gram laktosa dalam 200 ml air.
- Dilakukan seperti percobaan b 1 2 3 dan 4 dengan menggunakan laktosa sebagai pengganti glukosa
- Digerus menggunakan lumping sebanyak 0,5 gram Pati dengan sedikit air hingga terbentuk pasta dan dipindahkan ke gelas piala
- Ditambahkan air dan dilakukan dekantasi sebanyak 3 kali dengan air sampai cairan di atas endapan menjadi bening dan dikocok perlahan
- Dilakukan percobaan terhadap peti tersebut dengan menggunakan pereaksi fehling, basa kuat dan iod
- Digunakan 2 ml larutan suspensi zat Pati tadi untuk setiap percobaan
- Diamati dan dicatat setiap perubahan yang terjadi pada reaksi yang digunakan
- Dimasukkan 10 mili larutan Pati sisa percobaan 6.3 pada tabung reaksi dan ditambahkan 1 ml HCl pekat
- Dipanaskan perlahan dengan api kecil lalu diteteskan sedikit cairan pada larutan iodium
- Dipanaskan sampai larutan mendidih sambil setiap menit dilakukan uji warna
- Dilakukan uji ini 5 sampai 6 kali sampai tidak terjadi perubahan warna larutan dan diamati
- Dinetralkan oleh larutan dan dilakukan uji menggunakan pereaksi fehling
1. Apakah pengaruh lama nya waktu pemansan terhadap uji benedict ?
2. Pada uji iodin ada percobaan yang menggunakan reagen iod secara langsung dan ada yang menggunakan betadine apakah reagen tersebut berpengaruh terhadap hasil uji dari iod yang di lakukan?
3. Pada reaksi pati yang di hidrolisis tahap terakhir di netralkan .sebutkan larutan apa saja yang bisa digunakan untuk penetralan ini ?
Baiklah saya Firda Oetary (021) akan mencoba menjawab permasalahan saudari no 2, menurut saya untuk hasil yang didapatkan ketika menggunakan betadin itu hasilnya kurang akurat atau kurang valid sedangkan ketika menggunakan reagen iodin langsung hasil yang didapatkan lebih valid atau lebih akurat atau lebih murni
BalasHapusTerimakasih
Baiklah saya Khusnul Khotimah (039) akan mencoba menjawab permasalahan no.1
BalasHapusMenurut saya pengaruh lamanya pemanasan diatas penangas air pada uji benedict ini yakni semakin lama dilakukannya pemasan maka akan mempercepat proses timbulnya perubahan warna namun pada pemanasan ini dilakukan secara kondisional dimana jika sudah terlihat perubahan warna, maka pemanasan dihentikan. Terimakasih :)
3. Larutan Na2CO3 atau larutan jenuh soda kue dapat digunakan untuk penetralan asam
BalasHapus