JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II PERCOBAAN XIII : UJI LEMAK

 

JURNAL PRAKTIKUM

KIMIA ORGANIK II




DISUSUN OLEH :

NUR KHALISHAH (A1C118052)

DOSEN PENGAMPU :

Dr. Drs. Syamsurizal., M.Si




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2020

 

I. Judul         : Uji Lemak

II. Hari/Tanggal  : Rabu, 18 Desember 2020 
  
III. Tujuan             :   Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah :

1.       Mengenal beberapa sifat lemak

2.        Mengetahui reaksi penyabunan dari lemak maupun minyak

 IV. Landasan Teori

    Lipid adalah salah satu kategori molekul biologis yang besar yang tidak mencakup polimer. Senyawa yang disebut lipid dikelompokkan bersama karena memiliki satu ciri penting lipid yakni tidak memiliki atau sedikit sekali afinitasnya terhadap air. Perilaku hidrofobik lipid didasarkan pada struktur molekulnya. Meskipun lipid bisa ikatan polar yang berikatan dengan oksigen, sebagian besarnya hanya terdiri atas hidrogen. Lipid sederhana hanya tersusun atas 2 golongan yakni golongan lemak dan golongan malam. Golongan lipid sederhana seperti lemak selain berfungsi sebagai sumber energi yang efisien,juga berperan sebagai pelarut vitamin yang tidak larut dalam air, serta sebagai sumber asam lemak esensial. Selain itu, beberapa lipid yang terdapat didalam tubuh kita mempinyai fungsi khusus. Bloor mengklasifikasikan lipid menjadi lipid sederhana, lipid majemuk dan derivat atau turunan lipid (Tim Penuntun Kimia Organik, 2020).

    Suatu molekul sabun mengandung suatu rantai hidrokarbon panjang plus ujung ion. Dimana, sebagian hidrokarbon tersebut bersifat hidrofobik dan larut dalam zat non-polar, sedangkan ujung ion bersifat hidrofilik dan larut dalam air. Dikarenakan adanya rantai hidrokarbon, sebuah molekul sabun secara keseluruhan tidaklah benar-benar larut dalam air. Namun, sabun mudah tersuspensi dalam air karena membentuk misel (micelles). Kegunaan sabun ialah kemampuannya mengemulsi kotoran berminyak sehingga dapat terbuang dengan pembilasan. Kemampuan sifat ini didasarkan oleh dua sifat sabun, pertama rantai hidrokarbon sebuah molekul sabun larut dalam zat non-polar dan kedua, ujung anion molekul sabun yang tertarik pada air akan ditolak oleh ujung anion mokekul sabun yang menyembul dari tetesan minyak lain, Karena tolakan molekul-molekul antara tetes sabun-minyak, maka minyak tersebut tidak dapat saling bergabung tetapi tetap tersuspensi (Fessenden dan Fessenden, 1990).

    Lipid atau lemak ialah senyawa organic yang banyak ditemukan dalam sel jaringan. Lipid memiliki sifat tidak larut dalam air namun dapat larut dalam zat pelarut non polar seperti eter, kloroform,dan benzene. Lipid ini bersifat non polar atau hidrofobik. Dimana, penyusun utama lipid ini adalah trigliserid, yaitu ester gliserol dengan tiga asam lemak yang dapat beragam. Adapun rumus kimia dari trigliserida ini yaitu CH2COOR-CHCOOR’-CH2-COOR|| dimana R, R’ dan R|| merupakan rantai alkil yang panjang. Adapun panjang rantai asam lemak pada trigliserida secara alami bervariasi, namun yang paling umum adalah 16,18 atau 20 atom karbon (Mamuaja, 2017).

    Proses pembentuka lemak terjadi dalam 2 tahap. Tahap pertama yang penting disebut sebagai lipogenesis, melibatkan pembentukan sebuah asam lemak berantau panjang. Peristiwa ini terjadi diluar mitokondria dan melibatkan keikutsertaan sebuah komplek multienzim. NaDH sebuah koenzim yang aktif dalam proses sintesis, memainkan peran penting dalam pembentukan asam lemak yang sangat tereduksi. Pada tahapan kedua, asam lemak akan digabungkan kedalam molekul gliserol teraktivasi untuk dapat membentuk trigliseraldehid dalam suatu proses yang dikenal esterifikasi (Hendra, 2001).

    Sejalan dengan meningkatkan pengetahuan tentang pengaruh asam lemak tertentu pada kandungan lemak darah, lemak hewan ternyata tidak direkomendasikan karena terlalu banyak mengandung asam lemak jenuh (SFA/Saturated Fattly Acid) dan terlalu sedikit asam lemak tak jenuh (PUFA/Poly Unsaturated Fatty Acid). Disamping itu pentingnya PUFA n-3 telah lama diketahui sehingga n-3 menjadi amat penting (Setiawati, 2016).

V. Alat dan Bahan

5.1 Alat

  1. Plat tetes
  2. Gelas beker
  3. Gelas Ukur
  4.  Pipet tetes
  5. Tabung reaksi
  6. Rak tabung reaksi
  7. Indikator universal
  8. Pipet Ukur
  9. Pro pipet
  10.  Vortex

5.2 Bahan

  1. Larutan Sabum
  2. Larutan CH3COOH
  3. Larutan CaCl2 1%
  4. Larutan MgSO4 1%
  5. Larutan Pb Asetat 1%
  6. Larutan HCl pekat
  7. Larutan KMnO4 0,1 N
  8. Larutan eter
  9. Minyak
  10. Aquadest
  11. Indikator PP

VI. Prosedur Kerja

6.1 Uji Pembentukan Garam
  1. Dimasukkan kedalam gelas beker larutan sabun sebanyak 30 ml. Lalu dicek pH nya sampai pH=7. Jika belum 7 maka ditambahkan larutan CH3COOH hingga pH nya menjadi 7.
  2. Dibagi larutan tersebut menjadi tiga tabung, tabung 1 berisi 5 ml larutan sabun lalu ditambahkan 7 tetes larutan CaCl2 1%, tabung 2 berisi 5 ml larutan sabun lalu ditambahkan 7 tetes larutan MgSO4 1% dan tabung 2 disii 5 ml larutan sabun lalu ditambahkan 7 tetes larutan Pb asetat 1%.
  3. Diamati perubahan yang terjadi pada setiap tabung.

6.2 Uji Hidrolisa Sabun
  1. Dimasukkan kedalam tabung reaksi larutan sabun sebanyak 10 ml, lalu ditambah dengan 5 ml aquades.
  2. Ditambahkan indikator PP sebanyak 3 tetes pada tabung reaksi. Kemudian larutan di vortex sampai homogen.
  3. Diamati perubahan yang terjadi pada setiap tabung.
6.3 Uji Sifat Emulsi Lemak

  1. Dimasukkan 2 ml aquades pada tabung reaksi 1 lalu ditambahkan 5 tetes minyak. Pada tabung reaksi 2, dimasukkan 2 ml aquades lalu ditambahkan 5 tetes minyak dan 2 ml larutan sabun. Setelah itu di vortex dan didiamkan.
  2. Diamati perubahan yang terjadi pada setiap tabung.

6.4 Uji Sifat Ketidakjenuhan Lemak
  1. Dimasukkan kedalam tabung reaksi 2 ml minyak dan 5ml larutan eter. Lalu, divortex campuran dan ditambahkan KMnO4 0,1 N sebanyak 3 tetes.
  2. Diamati perubahan yang terjadi pada setiap tabung.

6.5 Uji Pembuatan Asam Minyak

  1. Dimasukkan kedalam tabung reaksi 5 ml larutan sabun dan 3 ml larutan HCl pekat. Lalu, divortex dan didiamkan hingga terbentuk 2 lapisan.
  2. Diamati perubahan yang terjadi pada setiap tabung

PERMASALAHAN

  1. Mengapa pada uji pembentukan garam hanya dapat dilakukan jika pH menunjukkan netral atau pH 7?
  2. Indikator apa yang digunakan pada uji Hidrolisa Sabun?
  3. Apa fungsi HCl Pekat pada uji pembuatan asam minyak?

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Baiklah saya Nurhalimah (024) qkan mencoba menjawab permasalahan no 3 yaitu apa fungsi HCl disini. Jadi fungsi HCl disini sebagai katalisator yiaitu untuk mempercepat jalannya reaksi. Terima kasih.

    BalasHapus
  4. hay lisa, saya nabilah zahrah (026) akan mencoba menjawab permasalahan lisa No.1 yang mana untuk menetralkan larutan sabun sehingga mempermudah untuk pembentukan garam.

    BalasHapus
  5. Saya Dewi Mariana Elisabeth (029) akan menjawab permasalahan no 2
    Indikator yang digunakan pada uji Hidrolisa Sabun adalah indikator fenolftalein sebanyak 3 tetes pada tabung reaksi. Kemudian larutan di vortex sampai homogen.
    Terimakasih

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnal Percobaan XI : Uji Karbohidrat

JURNAL PERCOBAAN X : ISOLASI SENYAWA P-METOKSI SINAMAT DARI KENCUR (KAEMFERIAN GALAGAL L)